yang tak pernah tergantikan

ketukan palu Tuhanku, Allah..

tlak di layangkan..

para prajuritnya mulai bertugas

pada setiap detiknya..

hingga aku pun terkena akan keputusanNya

ketika yang tak mau tergantikan..

harus tergantikan..

ketika yang di pertahankan..

harus dilepaskan

ketika yang di harapkan

harus diasakan

ketika kamu yang tak mau ku lepas

suatu saat.. akan terlayangkan paluNya..

Tuhanku.. sabar itu pada benturan pertama..

aku tau.. ya aku sangat tau..

Tuhanku.. dosa ku mulai menderas

aku tau.. ya aku sangat tau..

jika layangan paluMu akan mengambinya

Kau Maha Tau tentang HambaMu ini

jangan kau ambil dia dari ku..

ampunilah aku

jangan Kau ambil dia dari ku

maafkan lah aku

jangan Kau ambil dia dari ku

apapun yang terjadi Allah..

maafkan aku terlalu memohon pada Mu untuk nya..

 jangan Kau ambil dari Ku..

walau hanya seujung kukunya..

ya.. walau hanya seujung kukunya

bedanya

bedanya,
sekarang kamu cukup berbayang
pada satu dari beberapa kotak
dengan tanda putih serta merah pada bagian tengah
dengan itu kamu mematangkan
rasa yang selama ini saya simpan, rapat.

bedanya,
sekarang, hadirmu di saat matahari tergantikan
angka 10 menjadi awal angan
yang tak terbendung, sebanyak kotak yang mengitarimu

bedanya,
kamu datang pada detik yang kuberi pada Tuhan
komunikasiku padaNya sering terhalang oleh ragamu pada otakku
akankah kau bertangung jawab atas semua ini ?

bedanya,
kini ku pandai memilih
merasa beruntung untuk merasa
semangat untuk memulai hari
siap mengulang tatapan kemarin sore
itu hanya karena, kamu
yang bisa mengubah semua menjadi bungkusan terindah
dengan sisi putih dan merah di tengahnya

bedanya,
aku berharap untuk bertatap
dimanapun
dengan tragedi indah tanpa akhir

bedanya,
rasa sesalku hanya akan menjadi cerita, nanti.

lebih senang untuk yang terakhir

sepanjang tahun kemarin

ku banyak beargumen

argumen tentang segala pertentangan

terutama pertentangan atas tawa kecilmu

tawa kecilmu yang masih buat ku buyar

sedikit runyam dengan segala kesenangan

bergejolak api dengan sedikit ketenangan

beribu harap dengan sedikit tertunduk

untukku,

terlalu mewah bermimpi

untukku,

terlalu miskin untuk menutup

menutup segala kekurangan padaku

kembali kau pamer agunganmu

dan aku lebih senang

hari ini menjadi terakhir

hari terakhir untuk tawa kecilmu

dan terakhir untuk

bermewah mewah dengan angan ku.

selamat tinggal ?

mungkin bisa,

tapi aku berusaha keras.

untuk tak lagi kembali berangan

ketika ku di ambang kegalauan.

terimakasih tawa kecil sepanjang sore

terima kasih atas segala pertentangan

terima kasih atas ada

terima kasih untuk tatap terakhir tadi.

:’) saya pamit.

Kemarin sore

rasaku,
kemarin sore
kau pada titik butaku
senyum ikhlas sebabmu

rasaku,
lama terasa gerakkan jemari
untuk menunjuk apapun
apapun agar matamu beralih

rasaku,
mati rasa
lihat matamu hangat
pada bocah tanpa tanda

dan kini semua nyata rasaku
rasa angan
rasa mimpi,
untuk tarik tatap mu
ikhlas mu
dan ayunan jarimu
kembali.

kau buat warna kini, kelabu.
yang hanya terganti janji
janji pada diri hatiku
untuk tidak lagi berasa harap
apalagi kembali memanggil keadaanmu

ku pastikan ini takkan terulang,
ya, takkan terulang.

Yang tak ingin ku lihat

rasa takutku satu akan

terbukanya setelah terpejam

dengan seribu peluang yang tak ingin ku lihat

 

sebelum ketukan palu Tuhan terdengar

takkan mulai ku terpejam

rasa takutku, karena rasa takutku

melihat yang tak ku ingin

 

kerjaku kini satu

mengulang nama Tuhan

membujukNya untuk jaga mataku

dari hal yang tak ingin ku lihat

kau bersama selain aku

atmamu

terbiasa dengan mengitari rotasi atmamu

buat aku tergamang tanpanya

tentangmu yang ku yakin lestari

takkan pernah di pungkiri rasa

dan bahkan tak ada lagi tempat

untuk naungan sehelai kertas baru

jangan kau bilang

jangan kau bilang

aku tak mencegatmu

digerbang halaman

saat kau tanpa pamit

ingin berjalan menengok

gebrang di luaran

 

taulah

tak ada lagi ruang di dada

bahan bagi diri ku sendiri,

-untuk mengungkapkan hak-

lidah telah dipatahkan cinta

dan apakalah arti kata

jika hanya menjadi pagar

yang kau ingin lompati

kau terjang

maka bersukalah

-cukup bagiku, kau-

dengan sebuah rumah di dada

pelindung panas hujan

bebrar luaran

*kopas dari buku bahasa Indonesia 😀

IKARIS

selain aku

Aku benci tawamu
Tawa mu yang terdengar jauh
Bersama selain aku

Aku benci suara senja mu
Dengan utama selain aku

Aku benci tentang mu
tentangmu selain ada aku

aku benci mata mu
mata mu melihat selain aku

aku benci apapun pada dirimu
terutama tak ada lagi aku

aku kesal
kesal atas perbaikan sikap pada selain aku
yang terasa satu untuknya
sedangkan seribu untukku

salah pantas kah aku ?
mendambakan mu kembali
untuk hanya aku
hanya aku
hanya aku
hanya aku
hanya aku yang buat tawa mu
hanya aku yang ada dalam hari mu
hanya mata ku yang kau lihat
yang selalu ada saat aku kau butuh

kini aku di telan kebencian
kekesalan atas hari
marah atas semua kenyataan
kenyataan hari bernoda api

Sometimes when I’m say “I’m Ok” I want someone to look me in the eyes, and hug me tight and say I KNOW YOU ARE NOT

« Older entries